Bandung Bondhowoso dan revisi kilat

Lama tak jumpa!
Skripsi saya sudah sampai tahap revisi lho. Pendadaran sih sudah tanggal 18 Oktober lalu, seneng deh. Sebenernya disuruh ngejar wisuda November, dan harusnya bisa asal revisinya dikerjain dengan serius setelah pendadaran, insya Allah. Jadwal yudisium dengan jadwal pendadaranku berjarak satu pekan. Harusnya bisa ngejar, harusnya…

Ah, tapi waktu itu aku sedang keasikan cari uang untuk menyambung hidup. Lalala~
Udah desperate juga sama dosen penguji yang bilang, “Emangnya kamu Bandung Bondhowoso yang bisa nyelesein 999 candi dalam semalam”, cape deh..
Sebenernya masih ada waktu tiga bulan buat ngerevisi, tapi orang-orang di sekitarku maksain revisian SELESAI dalam waktu seminggu. Aje gile, dikira revisian gue ga banyak. Lihat nih:

Banyak, kan?! Belum lagi lipetan-lipetannya hampir di setiap halaman….
Aku sempat khilaf dan melakukan hal bodoh dengan minta tanda tangan dosen buat yudisium padahal revisi belum kelar. Yah, ini atas desakan orang-orang di sekitarku, termasuk Geng CaKep, ibuk, Andri, dan mas Bams. Malu semalu-malunya deh. Don’t try it at home, kecuali kamu terdesak untuk melahirkan. Lho! 😀

Dalam hati udah bersyukur banget bisa pendadaran Oktober dengan skripsi seadanya, baik banget dosen pembimbingku. Tapi dorongan eksternal ternyata lebih kuat dan membuatku nekat. Pelajaran yang aku dapat dari pengalaman tersebut adalah dengarkan kata hatimu, kamu yang paling tahu kemampuanmu, kamu yang paling tahu masalahmu, dan ga usah nekat hanya untuk nyenengin orang di sekitarmu!

Tapi beneran deh seneng banget, karena orang-orang di sekitarku telah memaksaku segera lulus, keinginan yang aku sendiri masih suka males-malesan menggapainya. Haha~
Allah punya seribu cara membuatku lulus, seribu makhluk yang membantuku, dan satu skenario yang tak terduga, tapi manis. Do’aku untuk pendadaran sebelum November dikabulkan. Alhamdulillah…. 🙂

Buruan lulus sam, pendadaran ga seserem yang kamu bayangkan! Salam sayang selalu…

Posted in Cerita, Skripsi | Tagged | Leave a comment

Kuliah Kerja Nyata – Sebuah Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat

Beberapa hari lalu saya mengeluh pada seorang teman. Saya mengeluhkan ‘kegagalan’ salah satu program KKN saya dulu, yaitu program pembuatan Website resmi desa lokasi KKN kami.
Hingga saat ini, website desa tersebut belum bisa berjalan sebagaimana mestinya. Dan itu menjadi beban pikiran saya selama berbulan-bulan. Saya merasa tidak mampu menyelesaikan tugas, saya merasa tidak bertanggung jawab.
Ceritanya begini, salah satu permintaan aparat desa dalam program KKN kami adalah pembuatan website resmi dalam rangka memperkenalkan potensi desa secara lebih luas. Oke fine, saya mengiyakan. Meskipun bukan ahlinya dalam dunia per-website-an, setidaknya saya pernah mencicipi ‘sekolah IT’ dan punya beberapa kenalan yang ahli IT. Saya berniat menjadi moderator disini, dan sepertinya inilah awal mula kesalahan saya.
Singkat cerita, konten website sudah jadi dengan bantuan ahli IT tadi. Lalu dengan niat luhur untuk membuat website free hosting dan domain untuk desa, saya coba menghubungkan dengan salah satu dinas pemerintahan daerah yang berfungsi mengurus hal begituan. Tentu saja dengan harapan website itu bisa launching di penghujung KKN.
TERNYATA, di lapangan, program berjalan tidak semulus rencana.
File website sudah jadi. Mau diupload tapi saya tidak tahu caranya. Mau diuploadkan pembuat webnya tapi tidak bisa login. Akhirnya, file itu saya berikan ke dinas untuk diupload. Tapi ternyata tidak bisa tampil karena tidak ada databasenya. Saya minta databasenya ke pembuat web, tapi katanya tidak pakai database. Dinas bersikukuh mengatakan file itu harus pakai database.

Harus wira-wiri jadinya, harus jelasin ini-itu, harus saling menunggu….
Yang satu minta ini, yang satu ngga ngasih. Ah, bertele-tele!

Saya terombang-ambing sebab tak tau apa-apa. *ekspresi mual kayak habis naik komidi putar 7 hari 7 malam*

Beberapa hari kemudian, pembuat web bilang kalau databasenya harus dibuat oleh admin. Saya sampaikan ke dinas, lalu kata mereka akan dibantu, pasti. Saya tunggu satu dua hari belum juga muncul webnya. Sudah saya ingatkan pula, sampai malu saya nge-sms dinas tsb. Pernah suatu kali dibalas beliau, “Maaf mbak masih banyak kerjaan”. Ya, mungkin program saya hanya sampingan buat beliau, bukan prioritas. Baiklah, saya mengalah….. Hingga detik saya memposting tulisan ini pun tampilan webnya masih begini:

Pembuat web ngasih alternatif untuk beli domain+hosting sendiri saja, paling habis 150K untuk domain. Standar katanya. Tapi uang program sudah habis untuk biaya bikin web. Sedangkan aparat desa mau nunggu domain dari dinas saja supaya webnya resmi/formal. Saya berusaha berpikiran positif, tapi tetap saja pikiran saya meliar kemana-mana. Pembuat web ada kepentingan bisnis. Aparat desa tidak mau keluar biaya. Dinas menganggap ini bukan proyek. Beginikah program KKN saya berakhir? Sama sekali tidak bisa dimanfaatkan? Sama sekali tidak memberdayakan? Jadi, membantu pun pakai logika untung-rugi? *rasanya pingin misuh dalam hati* Astaghfirullah….

Nilai KKN saya sudah keluar, nilai sempurna. Tapi sungguh program ini masih mengganjal di pikiran dan hati saya. Saya tidak bermaksud jadi pengecut yang lari dari tanggung jawab. Saya buatkan akun blog desa di WordPress.com. Semoga yang gratis ini tidak disia-siakan. Tunggu alamatnya, saat ini blognya sedang dalam proses pembangunan.

“Pemberdayaan itu kan memang gak selalu berhasil”, kata teman saya. Ada orang yang bisa diberdayakan, ada yang tidak. Kalau sudah begini, berarti mereka tidak bisa diberdayakan. Cukup tahu saja…. Bukan mencari alasan, tapi menurutku benar juga kata temanku itu.

Catat, untuk calon mahasiswa/i KKN periode berikutnya:
1. Tidak semua permintaan aparat/warga desa harus kamu iya-kan.
2. Buatlah program yang sesuai dengan keahlianmu.
3. Jangan putus asa apalagi lari dari tanggung jawab. Ingat, ini baru pembelajaran.
4. Jadilah orang yang bisa diajak bekerjasama.
5. Pemberdayaan tidak selalu berhasil, jangan bunuh diri hanya karena programmu tidak jalan padahal sudah diusahakan maksimal.

Jangan jadi pesimis karena cerita saya ini. Percayalah, pengalaman KKN bisa merubah hidupmu. Menyenangkan deh pokoknya! Selamat belajar memberdayakan masyarakat! 🙂

Posted in Cerita, Kuliah | Tagged , , , | Leave a comment

RIP Drs.Tukiran, M.A.

Siang ini, sekitar jam satu siang, Dosen Pembimbing Skripsi saya meninggal. Kabarnya beliau meninggal sebab penyakit ginjal yang selama ini beliau derita.
Saya sedih…. Meskipun beliau hanya sebentar membimbing saya, namun semua itu sungguh berkesan. Teringat saat pertama kali saya memperkenalkan diri sebagai bimbingan beliau. Sebenarnya beliau sudah menolak secara halus dengan mengatakan bahwa beliau sudah tidak mau membimbing skripsi lagi sebab beliau ingin pensiun dengan tenang, tapi saya ga ‘merasa ditolak’ dan tetap maju. Hihihi….
Teringat juga saat ujian kompre, jawaban saya untuk pertanyaan dari dosen penguji justru kebanyakan ‘diperjelas’ oleh beliau. Beruntungnya saya, hihihi….
Pernah juga saya mbrebes mili saat bimbingan lalu sesampainya di kos lansung nangis bombay gara-gara beliau cerita panjang lebar tentang perjuangan orang tua menyekolahkan anaknya. Huaaaaa :'(
Ah, pokoknya banyak deh! Meskipun agak underpressure dalam bimbingan beliau, tapi saya selalu termotivasi untuk segera menyelesaikan penelitian ini dan segera lulus.
Setelah mendengar kabar bahwa beliau telah tiada, saya jadi eman kenapa kemarin tidak segera menyelesaikan penelitian ini. Hufft….
Terakhir kali bertemu, saya berjanji kepada beliau untuk menyelesaikan penelitian ini pada bulan Februari, minimal hingga bab analisis data. Bismillah, semoga saya bisa memenuhi janji itu.

He’s a rare, unique, and really something lecture. Rest in peace, Drs. Tukiran, M.A.

Posted in Cerita, Skripsi | Tagged , , | Leave a comment