True story about: Jomblo

“Jomblo itu ibadah!”, tulis mbak kosku di status Facebooknya. Banyak yang menanggapi, ada yang heran, ada yang menyemangati, bahkan ada yang mensyukurinya. Berdasarkan cerita mbak kosku, status itu ditulis saat dia dan pacarnya sedang bertengkar karena sesuatu. Tapi mereka tidak benar – benar putus, mbak kosku tidak menjomblo. Beda dengan saya.

Jomblo itu ibadah, sebab menjomblo artinya tidak lagi pacaran. (Hehe, analogi macam apa ini). Memutuskan untuk menjadi jomblo bukan perkara mudah, apalagi jika hubungan yang dibangun sudah berumur lama. Cari alasan yang kuat, dan butuh energi yang besar untuk melakukannya. “Kamu harus kuat”, “Apa pun risikonya, harus dihadapi”, “Gue juga pengen jomblo”, “Si Y juga barusan jomblo”, berada di antara orang – orang yang mengatakan itu pada Anda akan memberi energi. Percayalah….

Jomblo bukan berarti tidak mencintai seseorang. Jomblo bukan berarti bebas melakukan apa saja seenaknya. Tapi jelas, jomblo adalah sebuah kebebasan.

Selagi jomblo, kenapa nggak mencurahkan segenap perhatian kepada orang tua, saudara, dan teman – teman yang mungkin selama ini disita habis oleh sang pacar. Selagi jomblo, kenapa nggak menambah pengetahuan dan wawasan, mempercantik diri luar dalam, melakukan hal – hal positif dan menyenangkan lainnya. Selagi jomblo, kenapa nggak ngurus skripsi yang sudah lama terbengkalai karena kebanyakan nge-date dengan pacar. Cepet lulus, lalu kerja, bikin ortu senang, lalu ngga disangka jodoh pun datang. Ehh, hidup kok indah banget yaa…. ^^

Jomblo, kenapa nggak?

*artikel bagus penambah energi: Bagus

About norpermatasari

Santai...
This entry was posted in Cerita, Cinta, Motivasi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to True story about: Jomblo

  1. 16 September says:

    Hahaha .. oleh iki mbak .. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *