Suatu ketika di kereta (1)

Tadi sore saya baru saja balik dari Sragen ke Jogja, sebab besok perkuliahan akan dimulai. Saya naik kereta Madiun Jaya non-AC yang dijadwalkan berangkat dari stasiun Sragen pada pukul 15:36 WIB.

Kereta penuh. Wajar, ini adalah saat penghabisan akhir pekan. Mungkin banyak orang yang baru pulang dari liburannya, termasuk saya. Banyak penumpang yang tidak kebagian tempat duduk. Saya naik ke gerbong 1, gerbong terdekat dengan masinis. Gerbong lainnya lebih padat daripada gerbong ini. Di gerbong ini ada seorang wanita yang sedang hamil tua dan seorang wanita yang sebagian tangan kirinya dibalut perban. Kami sama – sama tidak dapat tempat duduk.

Tepat di depan wanita hamil itu duduk seorang lelaki yang ku taksir umurnya baru 30-an tahun. Sejak baru naik hingga kereta berjalan, lelaki itu sama sekali tidak menawarkan kursi bagi wanita hamil tadi. Saya kesel, nggerundel dalam hati. Dimana sikap gentleman lelaki ini? Apakah ia sama sekali tidak kasihan pada wanita hamil itu? Oh come on, apakah dia terlalu pengecut untuk berbuat baik?

Memang di karcis tidak tertera nomor tempat duduk bagi setiap calon penumpang. Berarti lelaki tadi juga sebenarnya tidak punya hak untuk duduk, meskipun dia lebih dulu naik kereta. Saya tidak habis pikir, di gerbong ini ada banyak pemuda, namun tak satu pun menawarkan kursi bagi si wanita hamil. Mereka asyik tidur, mainan HP, ngobrol, tidak sempat memperhatikan lingkungan sekitarnya. Coba bayangkan jika wanita hamil tadi adalah ibu kita. Betapa lelahnya berdiri berpuluh menit dengan membawa Anda di dalam kandungan. Wanita hamil tadi turun di Solo, syukurlah ia tidak perlu berdiri terlalu lama.

Untungnya, di akhir perjalanan ada seorang pemuda yang berbaik hati menawarkan kursinya pada seorang ibu yang berdiri di dekatnya. Perbuatan pemuda ini cukup meredam  kekesalan saya.

Saya suka naik kereta. Sayangnya, fenomena rebutan kursi di kereta ekonomi sering membuat saya miris. Katanya orang Indonesia itu ramah – tamah, tepo seliro. Kenyataannya tidak juga. Mungkin predikat ramah dan tepo seliro itu terlalu digeneralisir. Haha….

Kapan ya, semua angkutan transportasi umum di Indonesia tercinta ini ramah terhadap para difabel, manula, ibu hamil, dan orang sakit…. Sebenarnya tidak perlu menunggu perintah secara formal, berbuat baik dan manusiawi itu adalah naluri setiap orang. Manusia mana yang tidak ingin dimanusiakan? Semoga suatu hari nanti semua orang bisa  melakukan mobilitas dengan nyaman.

About norpermatasari

Santai...
This entry was posted in Cerita and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *